Biayatrip Kawah Ijen (updated September 2018): Tiket Kereta Api Lempuyangan (LPN) - Karangasem (KNE) Rp 94.000/orang Sewa Mobil & Supir 10 jam Rp 450.000/mobil. Bisa muat 4-6 orang. Tiket Masuk Kawah Ijen Rp 5000/orang. Local Guide Rp 200.000/grup. Rental Motor Rp75rb/24jam. Ojek Motor (Kayanya sekitar Rp 300rb utk pp) Padaroad trip kali ini saya menggunakan mobil pribadi dengan rute perjalanan Jogja-Surabaya-Situbondo-Bondowoso dengan tujuan ke base camp Kawah Ijen yaitu Bumi Perkemahan Paltuding yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi. Total perjalanan yang saya tempuh dari Jogja hingga Bumi Perkemahan Paltuding kurang lebih 13 jam. WnwoWvb. Perjalanan ke Kawah Ijen memberi banyak pembelajaran. Tentang keberuntungan, dan juga peringatan. Ternyata benar, traveling memang tak sekadar destinasi. Dekat maupun jauh, sederhana maupun mewah, saya rasa setiap perjalanan punya makna dan pelajarannya masing-masing. Sebuah perjalanan mengunjungi Kawah Ijen yang terletak di timur pulau Jawa, seakan mengajarkan saya untuk kembali tahu diri agar tak pernah sekalipun meremehkan alam. 1. Setiap Tempat Berbeda Punya Keistimewaan, Sekaligus Risikonya Masing-Masing Saya kira, mengunjungi Kawah Ijen, sama seperti mengunjungi gunung-gunung wisata lainnya. Sebut saja Gunung Merapi, wisata Kawah Putih, Gunung Tangkuban Perahu, puncak Sikunir, atau Gunung Bromo. Tak perlu effort berlebih menaiki setapak demi setapak jalan dengan wajah riang-gembira, sambil sesekali melakukan selfie-wefie-famfie, etc. Teman saya bahkan berkata, tak ada trekking yang berarti. “Cuma dua jam, kok. Habis itu, sampai.” Apalagi, bapak-bapak penjual kopi setempat juga mengatakan hal yang sama. “Ah, dekat itu, Mbak. Track-nya juga jelas.” Ingatan pernah beberapa kali menjamah gunung pun rupanya membuat saya menganggap setiap tempat sama. Tapi ternyata, segala anggapan remeh itu memadai biang kekacauan saat pendakian. Lima belas menit pertama, napas saya tersengal. Sinyal yang memberi pertanda, ada yang tak beres dengan tubuh. Saya rapatkan jaket tebal, pun juga sarung tangan serta kaus kaki yang membungkus erat badan. Saya berasumsi; palinglah karena suhu dingin. 2. Apa Pun Medannya, Persiapan Tetap Diperlukan Bau basah memenuhi udara. Gerimis membuat saya beserta rombongan lain khawatir. Akankah malam ini dingin, mengingat kami tak punya tempat bermalam lain, selain mobil elf dengan kursi yang jumlahnya pas-pasan? Namun rupanya, kekhawatiran segera bisa ditepis, sebab saya justru melega, sepasang kaus kaki dan sarung tangan yang saya bawa sekenanya, sebab dipersiapkan secara mendadak, justru tak butuh teman pelapis. Saya yang kadung meremehkan bahwa perjalanan ini pastilah berlangsung aman justru membuat kesalahan fatal setelahnya tak cukup tidur, tanpa sarapan, dan cuma menyantap semangkuk mie instan di malam hari. Belum lagi, saat perjalanan berangkat, kondisi badan rupanya enggan diajak kompromi. Melihat blue fire yang tersohor itu sedang memercik dengan indahnya—membuat khayalan saya mengawang ketika di perjalanan. Masalahnya, karena dadakan, saya belum sempat browsing—cek lokasi. Sementara sebentar-sebentar saya sibuk beristirahat ngos-ngosan, gerombolan bule di belakang saya menyusul, lalu dengan santainya mendaki sambil memakai kaus tanpa lengan. 3. Perjalanan Akan Mengenalkanmu Pada Beragam Tipe Asli Orang Kenali, Jangan Menghakimi Tak sabar, rombongan saya satu per satu mulai meninggalkan. Sebelum mendaki, kami memang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Saya yang mendadak harus ke kamar mandi—apalagi dalam situasi toilet mengantre—pun harus rela ditinggalkan dan jadi rombongan terakhir. Namun belum habis masa 30 menit pertama, konsep rombong-merombong, kelompok-berkelompok, bubar sudah. Kami yang sebelumnya memang tak saling mengenal terpencar. Ada yang tak sabar lalu naik sendiri atau berdua. Ada yang tertinggal di belakang, semacam saya, ada pula yang jadi penyelamat dengan menunggu yang tertinggal, lalu naik bersama-sama. Saya sendiri pasrah. Toh saya juga tidak kenal-kenal amat. Beberapa teman—yang kebetulan adalah seorang pejalan—pernah berkata “kalau kamu ingin mengenal karakter asli orang, siapa orang itu sebenarnya, ajak dia naik gunung.” Sebuah ungkapan yang telanjur judgemental memang. Sebab, menurut saya, ada banyak sebab yang mengakibatkan seseorang harus berada dalam kondisi tersebut. Mungkin saja, mereka punya tenggat, semacam target waktu pencapaian demi menakhlukan diri sendiri. Mungkin saja, dalam diri mereka ada hasrat yang menggebu-gebu untuk sampai di puncak. Atau mungkin, kecepatan berjalan mereka ya, memang sudah dari sananya secepat itu. Maka saya pun ikhlas-ikhlas saja melihat satu per satu rombongan mulai meninggalkan. Malah, saya menganjurkan agar mereka meninggalkan saya, sebab sudah kepalang tak tega jika harus membiarkan mereka mengikuti saya. Tetapi dengan alon-alon asal kelakon, menapaklah saya satu-satu. Beberapa teman, yang saya kenal mendadak, dengan sabar menunggu saya. Ada pula yang menuntun, pelan-pelan. Akibatnya, saking tak enak-nya, sibuklah saya mengecek waktu. Sebentar-sebentar saya tanya jam, lalu segera panik begitu jam menunjuk angka empat pagi, padahal katanya baru separuh jalan. Jadilah sibuk saya meminta maaf, lalu terkadang mengusir para relawan baik hati sedari tadi sibuk menunggu untuk lebih dulu berjalan, melihat blue fire idaman yang katanya cuma ada dua tempat di dunia Islandia dan Banyuwangi, Indonesia. Antisipasi kalau-kalau, waktu tidak memungkinkan dan akhirnya mereka gagal sampai tepat waktu. 4. Apa pun Kondisinya, Selalu Ada Cara Untuk Membuat Diri Termotivasi Pukul lima kurang seperempat—makin paniklah saya. Orang yang bersama saya, tinggal satu orang. Sisanya menghilang. Tak lama, seorang pengangkut belerang berjalan sejajar. Iseng, saya bertanya tentang seberapa jauh perjalanan. “Wah, tinggal sebentar lagi kok, Mbak. Paling lima belas sampai setengah jam lagi,” katanya enteng. “Oh,” jawab saya pendek, sependek-pendeknya, lalu tiba-tiba merutuki kebodohan saya yang punya prinsip nggak lagi-lagi bertanya sama orang lokal. Jawabannya pasti “dekat”, “sebentar lagi”, padahal jauhnya bisa nggak ketulungan. Tetapi rasa pesimis saya mendadak kalah saat saya tanya bapak pengangkut belerang tentang bobot belerang yang biasanya ia bawa. “Ini cuma tiga puluh kilo, Mbak. Biasanya, bisa enam puluh sampai delapan puluh kilo,” katanya santai. Saya langsung kaget. Tiga puluh kilo itu setara bobot adik kecil saya dua tahun lalu. Dalam sehari, mereka bisa bolak-balik, naik-turun hingga 3-4 kali. Karenanya, saya pun termotivasi untuk berjalan cepat-cepat. Semakin cepat, semakin baik. 5. Terkadang, Apa yang Ingin Kita Capai Tak Selamanya Muncul Utuh di Depan Mata, Bila Tidak Ikhlaskanlah. Selalu Ada Sisi Baik yang Bisa Diambil dari Setiap Hal Kira-kira pukul setengah enam pagi, sampailah saya di puncak. Hawa dingin langsung menusuk kulit, karena rupanya angin bertiup kencang sekali. Saya yang semula melepas segala perlengkapan dingin mulai dari kupluk dan sarung tangan, buru-buru mengenakannya lagi. Dari kejauhan seorang teman menghampiri saya. Ia masuk dalam kloter pertama, sudah pasti sampai lebih dahulu. Tetapi dengan raut wajah kecewa ia melenyapkan antusiasme saya. “Blue fire-nya kecil banget, kayak api kompor.” “Oh, yasudahlah, mau gimana lagi?” Saya yang sudah lemas, makin lemas. Seorang teman menghibur. “Yasudah, kita bisa keliling-keliling dulu. Bagus banget, nih.” Sebuah kawah berwarna hijau-kebiruan terbentang luas di hadapan saya. Asap putih menyembul dari permukaannya. Orang bilang pakailah masker, belerangnya sangat menusuk. Tetapi, sedikit buntung di awal ternyata berbuah untung. Bau belerang yang menusuk ini tidak punya efek pada hidung saya yang banal, karena mampet sedari awal. Maka saya pun buru-buru sibuk naik undakan-undakan khas gunung yang mengitari saya, demi pemandangan indah dan berbeda dari ketinggian, sementara di sekeliling sibuk melakukan gerakan cepat mencopot masker saat berfoto, lalu buru-buru memakainya karena tidak tahan bau belerang. 6. Seberapapun Jauh Kamu Melangkah, Akan Selalu Ada Tangan-tangan Tak Terlihat yang Menjagamu Kira-kira pukul tujuh, saya memutuskan untuk turun. Pertama karena tidak tahan dingin. Kedua karena Matahari sudah cukup menyengat. Ketiga karena sudah puas. Rute turun, sama dengan rute naik. Hanya saja, saya cukup kaget saat tahu, jalur naik-turun ternyata tidak cukup luas, sementara jurang dalam dan lebar menganga di sebelah kiri. Rasa was-was kembali menyergap sebab saya jadi teringat, bahwa sejak pendakian, rupanya saya cenderung duduk istirahat di bebatuan atau gundukan kecil di bibir jurang. Kondisi gelap di awal pendakian membuat saya pikir perjalanan bakal aman-aman saja. Keberuntungan ke sekian hari ini. Cukup menyelamatkan bagi saya—pejalan super pemula yang lalai, merasa sudah cukup, lalu cenderung meremehkan. Bagaimana seandainya saya tidak hati-hati? Bagaimana jika di tengah jalan napas saya habis, di saat teman sekelompok justru meninggalkan? Semua pertanyaan itu membuat saya berpikir dan tersentil di tengah-tengah jalan turun. Dalam sebuah perjalanan naik dan turun gunung wisata yang sering kali terlihat remeh, dalam sebuah perjalanan hitungan dua-tiga jam, rupanya saya telah diingatkan. Semesta itu besar, ia luas dan tak berbatas. Sementara kita manusia, cuma berdiri kecil di tengah-tengahnya. Seperti debu yang bisa hilang dalam satu kibasan tangan, siapa kita berani merusak, lalu menantang angkuh seolah jadi yang paling kuat? 7. Alam Indonesia Memang Indah, Ironis Bila Justru Orang Luar yang Peduli Akan Hal Itu Foto oleh Claire Andre Peringatan selanjutnya muncul. Belum lama berjalan, pundak orang yang berjalan sejajar dengan saya, ditepuk dari belakangnya. Seorang pria bule, dengan nada sedikit marah, mencoba mengingatkan. Rupanya, orang itu baru membuang begitu saja satu botol air mineral yang sudah kosong isinya ke satu sisi jalan. Bule itu marah, lalu menyuruhnya memungut kembali sampahnya. Suatu hal yang cukup memalukan, mengingat orang lokal baru saja diingatkan oleh orang luar yang notabene, tidak memiliki suatu hubungan pun dengan alam Indonesia. Saya menengok. Orang itu berbicara kepada salah satu temannya ia pikir itu tempat sampah, sebab ada sampah serupa di sana. Tak jauh dari tempat ia membuang sampah, beberapa mural bertulis nama, inisial, hingga ucapan selamat menghiasi batu-batu besar di sisi kanan jalan. Saya membayangkan, si pria bule pastilah mengamuk jika melihat ini. Ya, ironis memang. Pria bule. Bukan orang Indonesia. 8. Jangan Meremehkan Alam Naik susah, turun pun susah. Sama seperti kemiringan tanah lumayan curam yang sanggup membuat detak jantung lebih cepat dan napas ngos-ngosan, turun dari Ijen tak bisa dianggap remeh. Seperti jalur naik yang terus menerus menanjak, bisa dibayangkan bagaimana jalur turunnya. Sebuah jalan setapak, di mana pengunjung harus benar-benar melewati turunan dari awal hingga akhir. Tak jarang, karena merasa lelah sekaligus menyiasati rasa lelah karena kaki jelas menjadi tumpuan badan, saya melihat banyak orang memilih berlari dengan risiko menabrak pohon atau justru jatuh berguling karena tidak mampu “ngerem”. Alhasil, kurang lebih dua jam perjalanan turun, telapak kaki, betis, dan lutut pun dibuat nyeri. Belum lagi panas menyengat yang rasa-rasanya membakar wajah. *** Sekitar pukul sembilan malam, akhirnya elf yang saya tumpangi sampai di rumah. Sehabis mandi dan bersih-bersih, saya menenggak satu tablet obat flu lalu tidur sepuasnya. Percayalah, dua hari setelahnya saya juga terpaksa beristirahat karena sakit dan menunda niat pelesiran saya sekian jenak. Kapok? Tentu saja tidak. Tapi yang jelas, saya akan persiapan dengan baik, dan jauh lebih berhati-hati di perjalanan berikutnya. *Tambahan Setelah agak sehat, sebetulnya saya sangat penasaran mengapa saya tidak bisa melihat blue fire yang sempurna. Setelah googling dan bertanya sana-sini, barulah saya mengerti, blue fire hanya bisa dilihat di malam hari, di mana pengunjung seharusnya sudah mendaki sejak pukul WIB. Tidak disarankan pula mengunjungi Ijen saat musim penghujan, selain nyalanya lebih terang saat musim kemarau, juga cukup rawan karena Kawah Ijen kerap kali mengelurkan gas beracun saat musim penghujan. Setelah mengetahui informasi ini, harus diakui saya sedikit menyesal karena mendadak memutuskan ikut trip tanpa persiapan. Blunder yang ke-sekian kalinya. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Toh, pergi ke suatu tempat bukan hanya tentang mengeksplorasi yang indah-indah saja, bukan? REKOMENDASI ARTIKEL KEREN PALING BARU Cara Wisata ke Kawah Ijen Termurah menurut versi gw Banyak banget emang paket wisata murah ke Kawah Ijen yang sering banget promonya nongol di feed instagram. Tapi mudah gak sih ke kawah ijen tanpa ikut paket Tour?? jawabannya SANGAT MUDAH, dan MURAH !! berikut gw share cara kesana dengan biaya yang sangat murahh Kalo kamu punya kendaraan pribadi macam motor atau mobil banyak yang bilang paling cost effective. Tapi jujur aja, karena ini lokasinya di ujung jawa, jadi kurang recomended kalau pake kendaraan pribadi, tapi kalau kamu emang punya waktu liburan yang sangat lama dan pengen seneng seneng dijalan di gak masalah tapi kalo gw sih emang mepet waktu buat liburan karena kerja. tapi kalau kamu bawa kendaraan pribadi jangan lupa camp dulu ya sebelum dan sesudah pendakian. Oh by the way, di gerbang masuk kawasan Kawah Ijen kamu juga bisa loh mendirikan tenda disini, ada kamar mandi dan toilet juga tapi tanpa air panas ya kamar mandinya ,, hehe Oke, berikut ini adalah cara berwisata murah ke Kawah Ijen versi paling mudah dan murah menurut gw; Kamu pesan tiket kereta dengan tujuan Stasiun KarangasemKNE Ini adalah stasiun kereta paling dekat dengan Desa Licin – Kawah Ijen. Jadi kalian jangan turun di Stasiun Banyuwangi Baru BW ya kalau turun disini bakal lebih jauh akses ke kawah ijen, tapi turun di Stasiun Karangasem KNE di Banyuwangi. Sampai di sana, kamu bisa memakai jasa rental mobil / jeep untuk menjemput kamu di stasiun. Nanti barang-barang kamu bisa tinggal di mobil, ini kalau kamu kesini rame-rame ya misal diatas 4 orang kamu bisa sewa mobil disini. Dijamin aman, mas supirnya bisa dipercaya. Alternatif lain, kamu bisa sewa motor/naik ojek motor Kalau gw sih lebih milih sewa motor. Ada banyak banget tempat buat sewa motor di depan stasiun, bahkan di area stasiunnya juga nyewain motor. perjalanan dari stasiun Karangasem ke Kawah Ijen cukup mudah, jalanannya bagus juga emang kondisi jalannya menanjak, sepi banget jam 12 malem dan dingin banget, udah pake kaos tangan masih aja tembus sampe ke tulang tulang. Jadi pastikan motornya fit yaa, gw saranin sih kesini pake motor yang diatas 125CC ya biar enakan bawanya, oiya kalau kamu orang baru pasti gak tau jalan menuju Kawah Ijen kan? Solusinya cuma satu PAKE MAPS, dah gitu aja.. jalannya cuma 1 dan ga cabang cabang. Tapi kalau budget cukup sih gw saranin sewa mobil aja, udah tinggal duduk dan pasti sampe dan ga ribet kudu taro barang barangnya dimana Perjalanan ke Kawah Ijen cukup mudah, karena kalau mau ke kawah ijennya kamu harus mendaki diatas jam 12 malam, dibawah itu belum boleh mendaki karena terjadi fluktuasi kadar sulfur di danau Kawah Gunung Ijen yang dapat menyebabkan gas beracun. Masa-masa munculnya gas beracun itu biasanya terjadi pada sore hari. Karena itu, masa aman pendakian bisa dilakukan dini hari hingga siang hari. Tips tambahan untuk yang berangkat dari Yogyakarta, karena keretanya memang cuma ada kereta ekonomi Sri Tanjung. Sistem kursinya 3-2. Jadi sangat gw sarankan sebelum masuk ke stasiun beli lah makanan atau roti roti, makanan sama minuman yang cukup agar tetap nyaman untuk perjalanan 13 jam 34 menit ini agar tidak menambah cost buat makan nasi goreng di dalem kereta yang harganya kali lipat .. Biaya trip Kawah Ijen updated September 2018Tiket Kereta Api Lempuyangan LPN – Karangasem KNE Rp Mobil & Supir 10 jam Rp Bisa muat 4-6 Masuk Kawah Ijen Rp 5000/ Guide Rp Motor Rp75rb/ Motor Kayanya sekitar Rp 300rb utk ppJadii, kalau dari Yogyakarta ke kawah ijen Versi termurah adalah pake tiket Kereta Api Sri Tanjung 94rb, Sewa motor75rb, tiket masuk 5rb.. Total 174rb udah sampe kawah ijen .. Berikut itinerarynya!2030 Sampai di stasiun tiba di pintu gerbang 2400 terbuka, bayar pintu masuk, mulai mendaki0300 tiba di puncak kawah0445 menunggu matahari terbit0630 Buat jalan kembali ke gerbang masuk0800 Istirahat & bersihkan diri Anda di salah satu warung di tempat parkir. Makan pagi!0830 Kembali ke stasiun Karangasem atau bisa langsung di lanjut ke Taman Nasional Baluran atau bisa langsung ke Bali juga bisa, Fyi ke bali naik kapal Feri dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk Bali cuma Rp Yang perlu dibawa Sepatu hiking – Gunung ijen adalah trek berbasis pasir. Tetapi sepatu olahraga juga bisa, pastikan Anda mengenakan kaus kaki panjang untuk menghindari pasir masuk ke kaki yaJaket – karena dingin dan bisa sangat berangin, bisa sampe 5 °CHead light / senter – Kamu akan membutuhkannya ketika hiking ke kawah karna lokasinya terjal dan baju ekstra dan kaos kaki – jika Anda banyak berkeringat, bisa ganti pas udah di tempat parkir buat balikBawalah air – Soalnya diatas ga ada yang jualan air ringan – untuk meningkatkan energi kerena lelah mendakiDan masker gas respirator – Kamu bisa menyewa harganya 25rb sekali sewa, karena bau belereangnya sangat menyengat Contact person Sewa Motor dan mobil dan homestay Ibu Subur / Bp. Abu Tholib 0852 361 55003 Baca cerita gw Backpaker ke BANYUWANGI Baluran, Kawah Ijen – Blue Fire, dan Pulau Merah Miftahul Huda Miftahul adalah pemilik dari Ini adalah blog pribadi milik Miftahul, yang sengaja dibuat untuk menyimpan cerita dikehidupannya, dan terkadang juga berbagi info yang bermanfaat disini. Read Next - Kawah Ijen merupakan destinasi wisata di Indonesia yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Kawah Ijen terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografi, Kawah Ijen terletak di koordinat 8,058 LS dan 114,241 BT di bagian utara berbatasan dengan Sungai Banyu Linu dan batas sebelah timur adalah lereng Gunung Ijen berada di kompleks Gunung Ijen yang mempunyai ketinggian meter di atas permukaan laut. Dengan lokasi yang cukup tinggi, suhu udara mencapai 13 derajat celcius. Bahkan pada musim-musim tertentu, suhunya bisa mencapai 0 derajat celsius. Gunung Ijen telah meletus beberapa kali, yaitu pada 1796, 1817, dan 1936. Pada 2011 hingga 2012, gunung ini ditutup sementara waktu karena mengeluarkan gas beracun yang membahayakan juga Akhirnya Wisata Kawah Ijen Dibuka Setelah 2 Bulan Tutup Proses Terjadinya Blue Fire Blue fire yang terdapat di kawah Ijen merupakan api biru yang langka, hanya ada dua jenis api ini di dunia. Setiap pagi Danau Kawah Ijen berwarna hijau tosca kebiruan dengan cahaya matahari berwarna keemasan memantul dari permukaan kawah. Kilau biru yang terdapat di kawah Ijen adalah gas hasil reaksi pembakaran dari senyawa belerang. Gas hasil reaksi ketika senyawa seperti belerang bercampur dengan oksigen dalamsuhu tinggi maka ada rekasi pembakaran. Panas terlepas dan senyawa kimia yang baru tercipta, misalnya sulfur dioksida. Energi yang barasal dari reaksi pembakaran meningkatkan elektron di atom menjadi semakin aktif. Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta, Foto/Unsplash/Maksym IvashchenkoKawah Ijen merupakan destinasi wisata yang terkenal dan populer di Indonesia. Banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi tempat ini, bahkan orang Jakarta juga banyak yang berencana untuk mengunjungi wisata ini. Bagaimana cara ke Kawah Ijen dari Jakarta menggunakan kendaraan pribadi? simak wisatawan dari luar kota yang memiliki rencana untuk mengunjungi Kawah Ijen. Keindahan alam yang alami dan suasana yang sejuk membuat tempat wisata ini tidak pernah sepi pengunjung. Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta , Foto/Unsplash/Andiko BaskoroDikutip dari laman resmi Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung informasi mengenai cara ke Kawah Ijen dari Jakarta yang wajib kamu ketahui sebelum berwisataCara ke Kawah Ijen dengan Kendaraan Pribadi Banyak dari kalian yang ingin mengunjungi wisata menggunakan kendaraan pribadi, karena lebih banyak waktu mengorol bersama keluarga dan bersantai di perjalanan. Inilah cara ke Kawah Ijen dengan kendaraan pribadiAmbil arah barat laut di Jalan Sultan Agung menuju Jalan Minangkabau Barat sekitar 700 meter, gunakan lajur tengah untuk putar balik 700 meter kemudian belok kanan ke Jl. Minangkabau 500 meter, belok kiri ke Jalan Padang Panjang melewati Soto Kudus Garang Asam di kiri jalan sejauh 110 meter. Jika sudah, belok kanan ke Jalan Dr. Saharjo melewati Masjid Baitur Rahman. 3,6 kilometer belok kiri ke Jalan Letjen MT Haryono melewati Direktorat Lalu Lintas Polda Metropolitan Jakarta itu gunakan lajur kedua dari kanan untuk menggunakan jalan ke Jl. Tol Cawang Grogol/ Jl. Tol Dalam Kota sejauh 400 meter sampai ke Jl. Tol Cawang Grogol/JI. Tol Dalam Kota A. Ambil terus lajur kanan untuk melanjutkan di Jl. Tol Cawang Grogol A sampai jalan keluar menuju JI. Layang Sheikh Mohammed Bin menuju Jl. Tol Jakarta - Cikampek sampai dengan Tol Cikopo - Palimanan, kemudian ambil arah Jl. Tol Jatingaleh-Krapyak A Jalan tol 7,5 kilometer Gunakan lajur kanan untuk mengambil jalan keluar menuju Srondol/Ungaran/Solo/ jalan keluar tersebut, ambil lajur menuju ke Jl. Tol Banyumanik/JI. Tol Srondol Jatingaleh/Jl. Tol Tembalang Banyumanik. Ambil jalan keluar menuju Ungaran/Bawen/Solo/Yogya, terus kanan supaya tetap di Jl. Tol Mojokerto - Kertosono kemudian ambil jalan keluar menuju Gunungsari/ tetap di kanan di pertigaan untuk terus menuju Jl. Raya Pantura/JI. Tol Surabaya - Gempol/Jl. Tol Surabaya - Porong. Ambil jalan keluar Gempol - Pasuruan menuju Bangit. Tetap di kanan di pertigaan, ikuti rambu ke Probolinggo/Situbondo. Belok kanan ke Jl. Probolinggo - Wonorejo/Jl. Raya Leces kemudian 500 meter selanjutnya belok kanan sejauh 1,6 kilometer dan belok kiri 1 kilometer lalu belok kanan lagi menuju Jl. Ronggojalu. 5,8 kilometer kemudian belok kanan ke Jl. Raya Dringu/Jl. Raya Panglima Sudirman/Jl. Raya arah ke Jl. Raya Wringin Lewati Bap Bin Ali Parfume kemudian Belok kanan ke Jl. Kawah Ijen 2,3 kilometer. Belok kanan untuk tetap di Jl. Kawah Ijen. Ikuti jalan hingga sampai ke wilayah kawah Ijen. Demikian informasi cara ke Kawah Ijen dari Jakarta dengan kendaraan pribadi. Selamat berlibur dan hati-hati! NANDA Kawah Ijen Banyuwangi atau Gunung Ijen adalah objek wisata yang populer bagi kalangan wisatawan terlebih saat musim liburan. Gunung Ijen berada pada ketinggian mdpl yang tidak jauh dari Gunung Merapi, Sekaligus merupakan gunung berapi yang pernah meletus tahun 1999. Sampai saat ini, gunung api aktif tersebut selalu ramai pengunjung karena mempunyai daya tarik tersendiri yaitu blue fire. Selain wisatawan lokal, wisatawan asing juga dibuat penasaran dengan adanya fenomena alam tersebut. Apabila kamu punya kesempatan berkunjung ke Banyuwangi, salah satu tempat wisata yang wajib kamu kunjungi yaitu Kawah Ijen. Destinasi wisata ini juga menjadi pilihan masyarakat yang senang fotografi. Selain memperoleh pengalaman mendaki, kamu juga bisa mengambil beberapa foto panorama alam yang tiada duanya. Aktivitas Liburan Di Kawah Ijen Kawah Ijen merupakan kawah asam pada bagian puncak Gunung Ijen dengan danau yang memiliki kedalaman 200 meter serta luas kawah hingga hektar. Kamu bisa berkunjung ke perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, tepatnya pada bagian cagar alam Taman Wisata Ijen untuk bisa menuju ke gunung berapi Ijen. Bahkan dari Kawah Ijen juga, kamu bisa melihat bagaimana kegagahan Gunung Merapi, Gunung Raung, Gunung Rante, dan Gunung Suket. Berikut adalah informasi lengkap tentang apa saja kegiatan yang dapat kamu lakukan selama berlibur di sekitar Kawah Ijen 1. Menikmati Indahnya Blue Fire Ijen Blue fire Kawah Ijen yang sangat populer, dan hanya ada dua di dunia. Banyak fenomena mengincar aktivitas yang satu ini karena fenomena blue fire merupakan fenomena alam yang sangat langka. Disebut blue fire karena kamu bisa melihat api biru dan fenomena ini hanya dapat kamu lihat di Indonesia juga Islandia. Blue fire muncul sebagai reaksi gas dari gunung belerang dan bercampur oksigen sehingga terbentuklah lidah api biru. Para pengunjung dapat melihat blue fire di Kawah Ijen tepatnya pada saat musim kemarau, yaitu bulan Juli sampai September. Pada waktu tersebut, api biru tampak lebih besar dan jelas. Baca Juga 10 Rekomendasi Destinasi Wisata Banyuwangi yang Seru, Instagramable, dan Unik. Apalagi berkunjung saat musim kemarau membuat jalur pendakian berpasir dan kering sehingga tidak berbahaya atau licin. Jika kamu ingin melihat fenomena blue file, maka sebaiknya kamu harus mendaki pada pukul 1 pagi dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menuju ke lokasi. Blue fire Ijen akan semakin tidak jelas ketika pukul 5 pagi. 2. Menikmati Sunrise Di Kawah Ijen Menikmati matahari terbit pertama di ujung Pulau Jawa. Tidak hanya blue fire yang dapat kamu nikmati, kamu juga bisa melihat ketika sunrise muncul di sekitar Kawah Ijen. Jika kamu ingin mencari waktu terbaik melihat sunrise, datang pada bulan Agustus, karena pada saat itu posisi matahari tampak lebih jelas. Jadi kamu bisa melihat blue fire dengan mendaki pada pukul 1 pagi dan sampai di lokasi kamu juga bisa menunggu matahari terbit. Perkiraan waktu sunrise di puncak kawah Ijen yaitu pukul pukul Pastikan kamu membawa perbekalan cukup dan melakukan pemanasan sebelum mendaki. 3. Berfoto Agenda wajib saat berlibur ke Kawah Ijen adalah berfoto, abadikan momen di segala spot foto hehe. Abadikan momen liburan kamu di Kawah Ijen Banyuwangi dengan mengambil foto tepatnya saat matahari sudah bersinar pada area wisata tersebut. Kawah Ijen tampak berwarna tosca atau hijau kebiruan sehingga akan tampak cantik jika berpadu dengan pantulan cahaya matahari. Foto yang kamu ambil juga akan tampak menarik karena kepulan asap belerang. 4. Pemandangan Bunga Edelweis Dan Pohon Cemara Tempat wisata ini juga menyediakan jalur pendakian yang membuat kamu merasa terpesona dengan pemandangan alamnya. Sepanjang jalurnya, kamu akan melihat keindahan Bunga Edelweis dan juga pohon cemara. Para pengunjung juga disarankan untuk tidak memetik tanaman secara sembarangan pada sepanjang jalur pendakian. Terdapat hamparan pohon Manisrejo yang membuat pemandangan sekitar lereng kawah semakin cantik karena daun yang berwarna kemerahan. Cara beli dan biaya tiket masuk Kawah Ijen Selama pandemi, terdapat beberapa perubahan bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke taman wisata alam Kawah Ijen. Tempat wisata tersebut akhirnya dibuka pada tanggal 7 September 2021 dengan pembelian tiket secara online yaitu melalui Pembelian tiket online tersebut bertujuan supaya para pengunjung tidak membludak sehingga tidak ada penumpukan pengunjung. Harga tiket tempat wisata alam ini terbilang cukup murah, yaitu hanya saat hari biasa dan saat akhir pekan bagi pengunjung lokal. Sedangkan harga tiket masuk suaka margasatwa Kawah Ijen yaitu saat hari biasa dan saat akhir pekan bagi pengunjung lokal. Apabila kamu membawa kendaraan pribadi, maka kamu harus mengeluarkan biaya parkir yaitu untuk kendaraan roda dua, sedangkan untuk kendaraan roda empat atau lebih. Kamu juga bisa pesan tiket untuk menikmati tour wisata Kawah Ijen dari travel organizer kami. Kami akan menyediakan itinerary supaya kamu bisa menjelajahi wisata Kawah Ijen secara mudah. Sehingga kamu tidak perlu pusing lagi memesan tiket atau menikmati waktu perjalanan selama di lokasi. Rute ke kawah Ijen Untuk menuju ke tempat wisata ini, maka kamu harus mengambil rute dari Bondowoso, caranya dengan menempuh perjalanan dari kota Surabaya atau kota Malang. Selain menggunakan kendaraan pribadi, kamu juga bisa menggunakan transportasi umum seperti bis tujuan Bondowoso dan lanjutkan perjalanan dengan menyewa Jeep ke arah pos Paltuding sekitar 64 km dari Bondowoso. Baca Juga Cara Menuju Banyuwangi Berserta Panduan Dan Regulasi Perjalanan Terbaru Biaya sewa mobil Jeep menuju ke kawah Ijen sekitar dan biaya tersebut sudah termasuk biaya sopir, biaya parkir, dan biaya bensin. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menuju ke lokasi pos paltuding. Perjalanan berlanjut sampai di Pos Paltuding dan kamu dapat menuju ke lokasi dengan melakukan pendakian 3 km sampai pada tepi kaldera Kawah Ijen. Pendakian pada umumnya dibuka setiap hari yaitu dari pukul 1 pagi. Kamu membutuhkan waktu 2 jam untuk bisa menuju ke kawah dan melihat fenomena blue fire. Panduan Mendaki Ke Kawah Ijen Bagi Pemula Supaya pendakian menuju ke kawah berjalan secara lancar, nyaman, dan aman, ada beberapa perlengkapan yang wajib kamu bawa ketika mendaki sebagaimana berikut Lampu senter, bisa berupa lampu tangan atau headlamp dan jangan lupa untuk membawa baterai cadangan Sarung tangan Jaket hangat Masker gas supaya bisa melindungi diri dari sulfur dioksida, gas beracun di sekitar kawah Masker kesehatan dan hand sanitizer Sepatu gunung Pakaian ganti Makanan dan minuman ringan secukupnya Stick pendaki atau tongkat Jas hujan Oksigen P3K. Selain seluruh perlengkapan diatas ada beberapa hal yang wajib kamu pertimbangkan sebagai saran supaya kamu bisa melakukan pendakian secara aman sebagaimana berikut 1. Dilarang membawa perhiasan karena apabila terkena sulfur dan belerang pada Kawah Ijen, maka dapat membuat perhiasan menjadi hitam. 2. Hindari menggunakan lensa kontak karena dapat menyebabkan iritasi mata akibat belerang. 3. Hindari membawa ransel dengan barang bawaan terlalu banyak, karena pendakian yang harus kamu tempuh yaitu 3 km. 4. Jika sudah melewati penambang belerang, berilah mereka Jalan terlebih dahulu karena para penambang membawa beban berat hingga mencapai 90 km dan perjalanan yang harus mereka tempuh yaitu 2 jam berjalan kaki agar dapat menuju ke titik pengumpulan. 5. Kamu bisa menghindari asap beracun yang dapat menghampiri kapan saja dengan menggunakan masker lengkap penyaring udara. Masker tersebut dapat kamu sewa ketika di pos atau bahkan tersedia oleh pemandu jika kamu menyewa tour guide. Pengunjung lainnya mungkin tampak menggunakan masker biasa atau masker kain. Padahal asap belerang apabila terus menyerang, dapat menyebabkan masalah kesehatan. Bahkan membuat bibir terasa pahit karena tidak ada filter untuk asap belerang. Catatan Berkunjung ke Kawasan Ijen Kawah belerang di kawasan Gunung Ijen, yang menjadi ladang nafkah utama para penambang belerang. Kawasan Ijen sering ditutup ketika kandungan belerang terlalu tinggi sehingga dapat membahayakan keselamatan para penambang maupun pengunjung pada area tersebut. Kawasan Ijen bisa ditutup sewaktu-waktu bahkan ketika kamu sudah sampai di lokasi. Hal ini harus kamu maklumi karena para pengelola sangat memperhatikan keselamatan pengunjung juga penambang dalam beraktivitas. Walaupun kamu sudah berada pada area kawah, asap belerang berkadar tinggi dapat menyerang secara tiba-tiba. Apabila kondisi fisik tidak kuat maka bau menyengat tidak hanya membuat pusing maupun batuk-batuk. Tetapi, juga bisa menyebabkan masalah kesehatan lainnya seperti tidak sadar diri hingga meninggal dunia. Dengan mengunjungi tempat wisata Kawah Ijen, jalan menuju ke lokasi via Banyuwangi terbilang cukup menanjak. Pastikan kamu mempunyai kondisi kendaraan dan fisik yang Prima ketika ingin menuju ke lokasi. Apalagi kamu juga harus berkendara saat malam hari. Jalanan menanjak bahkan mempunyai kemiringan hampir 45 derajat. Selain itu suhu pada kawasan Ijen hampir sama seperti Bromo karena mempunyai suhu ekstrem. Saat bulan Mei sampai September, area Kawah Ijen mempunyai suhu mencapai 5 derajat Celcius. Supaya tidak ada hipotermia saat di Gunung, pastikan kamu mempersiapkan baju hangat. Gunakan baju hangat saat menunggu teman pada bagian puncak kawah. Ada banyak warung makan di area paltuding atau area parkir. Kamu bisa menikmati teh panas sebelum memulai pendakian atau setelah turun dari pendakian. Tidak usah membawa makanan apabila ransel sudah berat. Pada kilometer kedua kamu juga akan melihat pondok teh hangat maupun kopi. Jika kamu merasa lelah atau lapar, kamu bisa melakukan pemberhentian terlebih dahulu di warung tersebut. Tempat inilah merupakan tempat istirahat para penambang belerang ketika ingin menghitung berat belerang yang mereka peroleh sebelum membawa turun. Kemudian mereka akan mencocokkan jumlah tersebut ketika sampai di area bawah. Di lokasi ini kamu bisa menghangatkan diri apalagi jika masih gelap dan dingin. Agar kamu bisa mencapai puncak gunung ini, kamu bisa mengambil rute perjalanan berikut 1. Stasiun ke Cagar alam Kawah Ijen Dari stasiun Karangasem, kamu bisa naik ojek menuju ke Kecamatan Licin, Desa Banyusari. Selanjutnya, turun dan kamu bisa naik truk pengangkut belerang agar dapat menuju ke paltuding. Lanjutkan perjalanan dengan turun pada gerbang utama cagar alam taman wisata tersebut. Sekarang kamu sudah berada di gerbang utama cagar alam sehingga kamu dapat melanjutkan perjalanan dengan cara jalan kaki. 2. Cagar alam ke pos Bundar Berada di cagar alam, kamu harus menempuh perjalanan dengan melanjutkan jalan kaki sejauh 3 km menuju ke arah Kawah Ijen. Ikuti petunjuk jalan yang sudah ada. Pada 2 Km pertama, kamu harus berjalan dengan kemiringan hingga 35 derajat. Hati-hati dalam melangkah karena struktur tanah berpasir dalam kondisi menanjak supaya tidak terperosok. 3. Dari pos bunder ke kawah Ijen Sampai di Pos bundar, kamu perlu berjalan kaki sekitar 1 kilometer supaya bisa menuju ke kawah Ijen. Jalur tersebut lebih sulit daripada jalur kedua karena kemiringan mencapai hingga 45 derajat. Fasilitas di Kawah Ijen Salah satu fasilitas yang ada di Gunung Ijen adalah taksi manual in. Umumnya digunakan wisatawan yang mengalami kendala untuk mendaki/turun dari Kawah Ijen. Apabila ini adalah pengalaman pertama berkunjung ke Gunung Ijen untuk melihat kawah dan kamu merupakan pengunjung dari luar kota, pihak pengelola cagar alam menyediakan beberapa fasilitas untuk mendukung kenyamanan wisatawan sebagaimana berikut Tour guide Kuliner Area parkir luas Area camping ground Penginapan Masjid Ruang cek kesehatan Daftar Pilihan Penginapan Kawasan Ijen Ketika kamu ingin melihat fenomena blue fire, mungkin kamu harus mendaki Saat tengah malam. Akan lebih baik jika kamu menginap terlebih dahulu pada sekitar kawasan Ijen. Tidak usah khawatir dengan biaya yang harus kamu keluarkan, karena ada banyak pilihan dengan fasilitas jempolan dan harga yang masuk akal sebagaimana berikut 1. Ijen Majestic B&B Tempat penginapan ini mempunyai tarif terjangkau dengan sewa kamar per malam mencapai sampai Tampilan penginapan di kawasan Ijen ini mungkin tidak mewah tetapi kebersihan dan rasa makanan yang enak pasti menjadi kepuasan tersendiri. Apalagi pada tamu akan menikmati pelayanan baik. Alamat jalan kenjo Glodok No 6 Gumuk Batur, Kecamatan Licin. 2. Backpacker Kawah Ijen Penginapan yang kedua merupakan penginapan dengan biaya terjangkau. Para pengunjung dapat mengeluarkan biaya hingga per malam. Backpacker Kawah Ijen menawarkan penginapan suasana asri. Material dalam penginapan tersebut adalah bambu dan kayu sebagai dekorasi. Alamat Jalan Kyai Haji Agus Salim Sobo, Kecamatan Banyuwangi 3. Tropical Paradiso Homestay Opsi selanjutnya tentang penginapan di kawasan wisata Kawah Ijen yaitu Tropical Paradiso Homestay. Dengan tampilan instagramable, penginapan ini mempunyai dekorasi yang membuat kamu teringat Cafe kekinian. Hal ini karena kombinasi natural Bohemian dan Natural. Untuk menginap di homestay tersebut, kamu harus mengeluarkan biaya sebesar hingga Rp per malam. Alamat Jalan Pulau Santen, Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi 4. Betah Homestay Homestay tersebut berada tidak jauh dari Kawah Ijen dengan tampilan instagram-able. Betah Homestay menawarkan penginapan dengan tampilan nuansa natural dan nuansa yang mirip seperti Cafe kekinian. Jika kamu ingin menghabiskan beberapa hari di dekat area kawah Ijen, maka kamu perlu mengeluarkan biaya sebesar hingga per malam di penginapan ini. Alamat Djati Khayangan Residence Blok G 31-32 lingkungan klucing, Kecamatan Giri. 5. Kampoeng Joglo Ijen Apabila kamu sangat menyukai suasana pedesaan Asri, kamu bisa menginap di Kampoeng Joglo Ijen. Penginapan tersebut menawarkan pepohonan hijau dengan adanya aliran sungai pada area terdekat sehingga membuat suasana jadi Asri. Tarif penginapan per malam mencapai Alamat Jalan Raya Licin, Krajan, Banjar, Kecamatan LicinKumpulan Tempat Wisata Di Sekitar Kawah Ijen Sekarang, kamu sudah tahu banyak hal tentang apa saja yang dapat kamu lakukan di tempat wisata Kawah Ijen Banyuwangi. Dari panduan tersebut rasanya kurang lengkap apabila kamu belum tahu banyak tentang mana saja wisata yang ada di sekitar Gunung Ijen. Baca Juga Informasi Dan Review Lengkap Hotel Berbintang Yang Nyaman Di Banyuwangi Apalagi jika kamu sudah punya rencana untuk mengunjungi Banyuwangi dan menikmati wisata Kawah Ijen, akan lengkap rasanya jika kamu juga berkunjung ke beberapa tempat berikut 1. Air Terjun Kampung Anyar Lokasi Air Terjun Kampung Anyar memang tidak jauh dari kawasan Ijen. Kamu bisa berkunjung ke air terjun tersebut dengan mengunjungi Dusun Kampung Anyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah. Penamaan air terjun ini dikarenakan terdapat 3 air terjun yang ada dalam Kampung tersebut. Kamu bisa melihat air terjun Jagir, air terjun sumber Pawon, dan Air Terjun Bidadari. Ketiganya punya keunikan tersendiri sehingga membuat kamu wajib berkunjung ke lokasi masing-masing. 2. Air terjun kalibendo Dusun Kampung Anyar juga mempunyai Air Terjun Kalibendo yang tidak kalah cantik jika dibandingkan dengan pesona Air Terjun Kampung Anyar. Pemandangan alam kau dengan udara yang masih asri dan segar di sekitar air terjun tersebut merupakan kepuasan tersendiri bagi para pengunjung. Ketinggian air terjun tersebut mencapai 10 m. 3. Air Terjun Blawan Tempat wisata di sekitar Kawah Ijen berikutnya yaitu Air Terjun Blawan. Tempatnya di area pemandian air panas, yaitu Desa Kalianyar kecamatan Sempol Bondowoso. Air terjun tersebut merupakan sumber Kawah Ijen sehingga mengandung belerang tinggi. Selain 3 tempat wisata yang tidak jauh dari kawasan Ijen di atas, kamu juga bisa menikmati pemandangan Air Terjun Kali Pahit, tempat wisata Kawah Wurung, Kawah Bulan Sabit, Desa Tamansari, dan pemandian air panas. Dengan adanya informasi ini Semoga liburan kamu jadi terasa lebih menyenangkan selama di Banyuwangi. Baca Juga Cari Tau Disini Panduan Wisata Banyuwangi Terlengkap! Tentu kalau kamu tidak mau ketinggalan dengan fenomena langka dan luar biasa ini maka Anda bisa memilih paket wisata Kawah Ijen yang telah disediakan oleh pihak travel. Kalau sudah yakin mau ke Kawah Ijen untuk membuktikannya, berikut ada penawaran menarik buat yang mau budget tipis tapi ekonomis. Kamu bisa join Opentripnya yah

ke kawah ijen dengan mobil pribadi